faelashoffa


TRIPASDA adalah # pasukan pengibar bendera di smkn 3 jakarta .

TRIPASDA MEMPUNYAI bernama TEJO ARIMUKTI, dan FANNY AULIA PRAYUDI

TRIPASDA baru mempunyai % angkatan

– Angkatan Pertama di kETUAI OLEH KA DAMAI

-Angkatan ke dua di ketuai oleh KA dian

-Angkatam ke tiga di ketuai oleh KA ulan

-angkatan ke empat di ketuai oleh fatmah huddayah

-Angkatan ke lima di ketuai oleh…….


nama saya : faela shoffa

alamat : jalan kepu timur. Lebih lengkapnya tanya kelurahan saya : kemayoran

sekolah-sekolah saya di :

– SDN 01 KEBON SAYUR

– SMP TAMAN SISWA 25

-SMK NEGRI 3 JAKARTA

insya allah akan meneruskan menjadi POLWAN/ GURU < WKAKA

kegiatan sekolah saya adalah : Menjajal suatu hal yang saya belum pernah coba di smp yaitu menjadi anggota OSIS< menjadi PASKIBRA dengan nama TRIPASDA , and dll

saya lebih berpihak ke Korea-pop ,japan-pop dari pada C-POP,dan M-POP


Big Bang adalah boy band dari Korea Selatan. Kelompok ini terdiri dari 5 personel, masing-masing mempunyai bagian suara berbeda atau rapping. Mereka dianggap sebagai anggota wajah yang baru dari “Keluarga YG” di bawah asuhan YG Entertainment.Setelah meluncurkan karier mereka pada tahun 2006, Big Bang berhasil populer dan sukses pada tahun 2007 dengan singel “Lies” (거짓말). Kesuksesan ini menempatkan Big Bang sebagai boy band ternama Korea Selatan, dan bersaing dengan grup penyanyi wanita Wonder Girls. Selain dikenal berkat lagu-lagu hit mereka, anggotanya juga dijadikan panutan dalam gaya berbusana.

PADA TANGGAL 2005-2006 Sebelum meluncurkan karier mereka dengan perusahaan rekaman besar, masing-masing anggota Big Bang sudah tidak asing lagi dengan dunia hiburan. G-Dragon, sang pemimpin, dan Tae Yang telah menjadi anggota YG Entertainment sejak mereka berusia 12 tahun. Keduanya dikenal sebagai “GDYB” yang merupakan singkatan nama mereka berdua ‘GD dari G-Dragon dan YB’ dari Young Bae (nama asli Tae Yang). Anggota bernama T.O.P dikenal sebagai rapper hip hop underground, sementara Seung Ri pertama kali masuk ke dalam dunia industri hiburan ketika diikutsertakan dalam acara milik Shinhwa, “Let’s Cokeplay Battle”. Setelah anggota Big Band lengkap, jaringan televisi MTV Korea membuat 10 episode dokumenter yang memuat tentang aktivitas mereka selama menjalani latihan sebelum diluncurkan sebagai boy band. Episode 6 bagian pertama merinci tentang motivasi dan latar belakang para amhhpya untuk menjadi seorang penyanyi. Dokumenter ini melukiskan proses latihan yang sangat berat seperti sesi menari dan menyanyi. Dua orang anggota, SO-1 dan Seung Ri telah dipertimbangkan untuk tidak diikutsertakan, tetapi mereka diberi kesempatan untuk memamerkan kebolehan mereka dalam hal menari dan menyanyi. Namun Yang Hyun Suk (CEO YG Entertainment) akhirnya mengeluarkan SO-1 karena ia dianggap “terlalu malu-malu”. Sementara itu, Seung Ri membuat Yang Hyun Suk terkesan dengan ketrampilan menyanyi dan menari yang dimilikinya, dan dipilih sebagai anggota Big Bang. Video dokumenter ini dibuat untuk mengenang masa paling berat para personel Big Bang sebelum menjadi bintang di industri hiburan Korea. Ketika banyak boy band yang memiliki tipe penyanyi yang imut, produser YG Entertainment ingin memudarkan citra imut, dan membuat sebuah boy band yang benar-benar bisa bernyanyi. Sebelum melakukan debutnya sebagai Big Bang, para personelnya pernah mengusulkan beberapa nama seperti Apex, Stump, dan Diamond. Yang Hyun Suk, produser dan pendiri YG Entertainment menganggap nama-nama yang diusulkan mereka terlalu kekanak-kanakan, dan menetapkan nama baru, yakni “Big Bang”. PADA TANGGAL  2006 Big Bang secara resmi melakukan penampilan pertama mereka di konser YG Family, 19 Agustus 2006 di Gymnastics Arena, Taman Olimpiade Seoul. Pada mulanya Big Bang beranggotakan 6 orang, namun salah seorang personel telah gugur (dalam video dokumenter Big Bang episode 9) dan tidak diikutsertakan. Sebelum merilis album pertama mereka, Big Bang merilis 3 EP secara berturut-turut dalam beberapa bulan. Mereka merilis EP pertama, The First Single (29 Agustus 2006) yang menghasilkan singel hit, “This Love”. Lagu “This Love” merupakan pembuatan ulang dari lagu “This Love” milik boy band Amerika Maroon 5 . Singel “This Love” laris terjual 17 ribu kopi di bulan Agustus 2006,[5 da selanjutnya masih laku kira-kira sebanyak 40 ribu kopi.[6] Big Bang merilis EP kedua, “Big Bang Is VIP”, sebulan kemudian pada 28 September 2006, dan terjual sebanyak 21 ribu kopi dalam tempo 1 bulan.[7] Pada akhirnya “Big Bang Is VIP” mampu terjual sebanyak 32.000 kopi.[6] Pada 22 November 2006, mereka merilis EP ketiga bertajuk B I G B A N G 0 3, dan sukses terjual hampir 30 ribu kopi. Masih pada tahun yang sama, klub penggemar Big Bang didirikan dengan nama “V.I.P.” (nama yang diambil dari judul singel kedua mereka, “Big Bang Is VIP”). Berbeda dengan klub penggemar yang lain, penggemar Big Bang tidak mempunyai warna balon khusus untuk memperlihatkan dukungan mereka pada Big Bang. Sebagai pengganti balon, mereka melambaikan saputangan atau bandana berwarna hitam dan putih yang merupakan warna Big Bang. Pada akhir Desember 2006, Big Bang menggelar konser pertama berjudul “The Real”. Pada bulan berikutnya mereka merilis album perdana Since 2007 yang berisi kompilasi singel-singel yang beredar sebelumnya. Album perdana Big Bang terjual sebanyak 48.009 kopi hingga akhir Februari 2007. PUNCAK KESUKSEESAN 2007 Pada 8 Februari 2007, Big Bang merilis album konser berjudul The First / Real Life Concert yang terjual hampir 30 ribu kopi hingga akhir 2007 Dari Mei sampai Juli 2007, Big Bang menggelar tur keliling Korea pertama mereka yang diberi nama, “With You”. Konser diadakan di 5 kota besar: Incheon, Daegu, Changwon, Jeonju, dan Busan. Pada Agustus 2007, Big Bang merilis Always sebagai album mini perdana mereka, diikuti dengan promosi dan temu penggemar. Pemimpin grup G-Dragon mulai memproduksi dan menulis beberapa lagu untuk album Always. Album ini mendapat sambutan baik dari para penggemar dan kritikus musik, terutama lagu berjudul “거짓말” (“Lies“).  “Lies” menjadi lagu pertama dari Big Bang yang menjadi hit luar biasa. Di acara SBS Hit Songs, “Lies” menempati urutan pertama pada 27 September 2007. Lagu ini juga menduduki peringkat pertama dalam MBC’s Music Core, KBS Music Bank, dan Mnet Countdown, serta sejumlah tangga lagu daring dan untuk beberapa minggu berturut-turut. Big Bang mendapatkan sejumlah penghargaan pada akhir tahun 2007, termasuk Grup Pria Terbaik dan Lagu Terbaik dalam acara Festival Musik M.NET/KM 2007.Pada tahun 2008, Big Bang meraih Penghargaan “Daesang” (Artis Terbaik) dari 17th Seoul Music Awards. Album mini kedua, Hot Issue dirilis beberapa bulan setelah Always, dan menghasilkan singel hit mereka yang berikutnya, “Last Farewell” (“마지막 인사”). Seperti album mini sebelumnya, “Last Farewell” juga menempati peringkat atas berbagai tangga album. Dari Cyworld, Last Farewell memenangi penghargaan Song of the Month Digital Music Award, dan berada di peringkat atas tangga album Juke-On selama 8 minggu berturut-turut. Konser keliling kedua mereka, Big Bang Is Great berlangsung dari 28 Desember hingga 30 Desember 2008. Tiket habis terjual dalam 10 menit. Akibat terlalu lelah dan cedera dalam konser, anggota Big Bang sampai harus masuk rumah sakit] dan kegiatan promosi mereka menjadi tertunda. Walaupun demikian, album dan singel Big Bang terus laris sehingga harus dicetak ulang.

[sunting] Peluncuran karier di luar Korea

Setelah sukses di dalam negeri, Big Bang mempersiapkan peluncuran karier mereka di Jepang. Album bahasa Jepang pertama dari Big Bang, For the World dirilis tahun 2008. Album tersebut berisi lagu-lagu berbahasa Korea, dan hanya satu lagu berbahasa Jepang, “How Gee” (remix versi baru dari “How Gee” yang pernah dibawakan grup Jepang Black Machine). Album perdana mereka di Jepang sampai di peringkat 14 tangga lagu Oricon, dan terhenti di urutan ke-10 akibat kurang promosi.[16] Pada 28-29 Maret 2008, Big Bang mengadakan konser di JCB Hall, Tokyo Dome City. Selain itu, mereka juga merilis album mini di Jepang pada akhir Mei dengan judul With U. Setelah usaha mereka di Jepang berakhir, Big Bang kembali ke Korea pada pertengahan 2008. Sesudah tertunda beberapa kali akibat kegiatan solo personel Big Bang, mereka merilis album mini ke-3, Stand Up. Dalam album mini tersebut, Big Bang berkolaborasi dengan grup Daishi Dance. Bersama grup rock Korea No Brain, mereka menghasilkan lagu berirama punk rock, “Oh My Friend”. Dari album mini tersebut dikeluarkan singel Day By Day (하루하루). Seperti album-album sebelumnya, G-Dragon sangat terlibat dalam proses produksi Stand Up. Semua lagu di dalam album tersebut merupakan ciptaan G-Dragon, kecuali “A Good Man” yang diciptakan T.O.P.. Album mini Stand Up laris melampaui 100.000 kopi, sementara singel “Day By Day” menempati urutan teratas tangga-tangga lagu Korea Selatan selama 6 minggu berturut-turut. Pada saat yang hampir bersamaan, Big Bang merilis lagu berbahasa Jepang, “Number 1” dari album berjudul sama, Number 1, dan memperkenalkan lagu mereka di berbagai acara radio dan televisi di Jepang. Menjelang penutupan tahun 2008, Big Bang merilis album Korea, Remember yang menghasilkan singel 붉은노을 (“Sunset Glow”).

Perluasan karier: 2009

Big Bang beristirahat sementara pada awal 2009 untuk memberi kesempatan anggotanya melakukan karier solo. Mereka memproduksi lagu “Lollipop” bersama grup anak perempuan 2NE1 yang baru didirikan, dan tampil bersama dalam video musik untuk keperluan promosi. Setelah sukses dengan “Lollipop”, Big Bang merilis singel Jepang berjudul “My Heaven” pada bulan Mei 2009. Lagu ini merupakan terjemahan bahasa Jepang dari lagu “Heaven” yang berasal dari EP Stand Up[rujukan?] . Selain itu juga ada Let Me Hear Your Voice atau dalam bahasa Jepang adalah Koe Wo Kikasete , yang dinyanyikan dalam bahasa Jepang dan Inggris .biodata BIG BANG

G-Dragon

  • Nama asli: Kwon Ji Yong (권지용)
  • Tanggal lahir: 18 Agustus 1988 (umur 22)
  • Pendidikan: Seoul Korean Traditional Arts Middle & High School
  • Penampilan pertama: DaeHanMinGook Hip Hop Flex 2001
  • Posisi: Pemimpin, rapper, penulis lirik, pencipta lagu

foto g-dragon dalam MV TONIGHT T.O.P

  • Nama asli: Choi Seung Hyun (최승현)
  • Tanggal Lahir: 4 November 1987 (umur 23)
  • Pendidikan: Seoul Art College (jurusan musik)
  • Posisi: rapper, beat boxer, pencipta lagu

foto TOP TAEYANG

  • Nama panggung: Tae Yang, SoL
  • Nama kecil: YB Taekwon
  • Nama asli: Dong Young Bae (동영배
  • Tanggal lahir: 18 Mei 1988 (umur 22)
  • Pendidikan: Chung-Ang University
  • Penampilan pertama: YG Family 2nd Album 2002
  • Posisi: vokalis, koreografer

Foto – foto taeyang

Daesung (D-Lite)

  • Nama panggung : Dae Sung, D-Lite
  • Nama asli: Kang Dae Sung (강대성)
  • Tanggal lahir: 26 April 1989 (umur 21)
  • Pendidikan: Sekolah Menengah Atas KyeongIn
  • Posisi: Vokalis

foto Daesung Seungri (Victory)

  • Nama panggung: Seung Ri, V.I
  • Nama kecil: V & Victory
  • Nama asli: Lee Seung Hyun (이승현)
  • Tanggal lahir: 12 Desember 1990 (umur 20)
  • Posisi: vokalis, koreografer

Foto seungri ‘ Big-bang juga punya mantan personil lohh

  • Nama asli: Jang Hyun Seung (장현승)
  • Tanggal lahir: 03 September 1989 (umur 21)

SO-1 tidak diikutsertakan lagi sejak episode ke-9 video dokumenter mereka. Sekarang tergabung dalam boy band lain yang diberi nama B2ST


Shinee (umumnya ditulis sebagai SHINee) adalah boy band Korea Selatan yang beraliran R&B kontemporer. Dibentuk SM Entertainment pada tahun 2008, Shinee terdiri dari Onew, Jonghyun, Key, Minho, dan Taemin. Penampilan pertama mereka pada 25 Mei 2008 dalam acara Popular Songs di SBS. Mereka membawakan singel promosi, “Nunan Neomu Yeppeo (Replay)” (“누난 너무 예뻐 (Replay)”).

Shinee memiliki acara realitas sendiri yang diproduksi berdasarkan tema lagu “Nunan Neomu Yeppeo (Replay)”. Mereka juga populer di kalangan generasi muda dengan gaya berbusana mereka. Kostum yang dikenakan Shinee dirancang desainer Ha Sang Baek (하상백). Sepatu kets hingga mata kaki, jins ketat, dan baju hangat berwarna-warni.] Kalangan pelajar meniru gaya berpakaian Shinee yang disebut media massa sebagai “tren Shinee”. Shinee sering dipakai untuk mengiklankan berbagai produk, termasuk produk busana Smart, kosmetik Nana’s B, dan Reebok.

setelah dirilis 23 Mei 2008, album mini pertama Shinee Replay masuk ke urutan nomor 10 tangga lagu Korea sebelum terhenti di urutan nomor delapan. Album mini Replay terjual 17.957 kopi pada paruh pertama tahun 2008.

Pada 7 Juni 2008, Shinee berpartisipasi dalam Dream Concert di Stadion Olimpiade Seoul bersama artis-artis Korea lainnya seperti Epik High, Girls’ Generation, Super Junior, TVXQ, dan Wonder Girls. Penghargaan “Artis Pendatang Baru Bulan Ini” didapat mereka dari Cyworld Digital Music Award, 22 Juni 2008  Shinee ambil bagian dalam SMTown Live ’08 yang diadakan 18 Agustus 2008. Mereka tampil bersama rekan-rekan sesama SM Entertainment seperti BoA, Cheon Sang Ji Hee the Grace, Girls’ Generation, Super Junior, dan TVXQ. Pada 23 Agustus 2008, Shinee menghadiri upacara penyerahan MNet’s 20’s Choice Awards 2008, dan memenangi penghargaan “Bintang Baru Terpanas”.

Album lengkap pertama dari Shinee adalah The Shinee World, dirilis 28 Agustus 2008. Album tersbeut langsung masuk urutan ke-3 tangga album Korea dan terjual sebanyak 30.000 kopi

 

Shinee manggung di Bangkok

Single pertama yang dikeluarkan dari album The Shinee World adalah “Sanso Gateun Neo (Love Like Oxygen)” (산소 같은 너 Love Like Oxygen) yang pernah dibawakan oleh Martin Hoberg Hedegaard dengan judul “Show the World”.  Lagu “Sanso Gateun Neo (Love Like Oxygen)” mulanya diciptakan oleh tim produksi dan penulis lagu asal Denmark yang terdiri dari Thomas Troelsen, Remee, dan Lucas Secon. Pada 18 September 2008, Shinee’s “Sanso Gateun Neo (Love Like Oxygen)” menjadi lagu nomor satu di M! Countdown. Beberapa hari kemudian, Shinee menerima penghargaan “Mutizen” untuk singel “Sanso Gateun Neo (Love Like Oxygen)” di acara SBS Popular Songs. Selanjutnya, Shinee ikut serta dalam “Festival Lagu Asia ke-5”, dan mendapat penghargaan “Artis Baru Terbaik” bersama grup penyanyi wanita Berryz Kobo.

Pada 30 Oktober 2008, Shinee merilis album Amigo yang merupakan pengemasan ulang dari album The Shinee World. Ke dalam album Amigo dimasukkan tiga lagu baru: “Forever or Never”, remix dari “Sa. Gye. Han (Love Should Go On)” (사.계.한), dan singel promosi “A.Mi.Go (Amigo)” (아.미.고). ] “A.Mi.Go” adalah singkatan dari frasa berbahasa Korea: “Areumdaun Minyeorueljoahamyeon Gosaenghanda” (아름다운 미녀를 좋아하면 고생한다 arti harfiah: Hati Jadi Sakit Ketika Kamu Jatuh Cinta Dengan Si Cantik).

Pada 15 November 2008, Shinee memenangi penghargaan “Artis Pria Pendatang Baru Terbaik” di Festival Musik MNET KM ke-10, menyisihkan pendatang baru lainnya seperti U-Kiss, 2PM, 2AM, dan Mighty Mouth. Pada upacara penyerahan tahunan Golden Disk Awards ke-23, Shinee membawakan lagu-lagu secara medley, “Nunan Neomu Yeppeo (Replay)”, “Sanso Gateun Neo (Love Like Oxygen)”, dan “A.Mi.Go (Amigo)”.

2009: Album Mini Romeo dan 2009, Year Of Us

SM Entertainment mengumumkan Shinee akan merilis album mini kedua pada 21 Mei 2009.[23] Singel pertama “Juliette” diedarkan 18 Mei.[24][25] Namun diumumkan kembali kalau kemunculan Shinee harus ditunda karena gigi depan Onew cedera, dan album mini kedua harus ditunda sampai 25 Mei 2009. Shinee akhirnya benar-benar kembali dalam acara Music Bank di KBS, 5 Juni 2009. Di album Romeo juga, Micky Yoochun menciptakan lirik rap pada lagu “Senorita”.
SHINee merilis album mini ketiga mereka,2009, Year Of Us pada 19 Okober 2009, tepatnya 5 bulan setelah mereka album mini terakhir mereka. Single yang dijagokan dari album mini ini adalah “Ring Ding Dong” yang dirilis secara digital pada tanggal 14 Oktober. Comeback pertama mereka dilakukan pada tanggal 16 Oktober 2009 di acara KBS Music Bank. Pada awal Desember 2009, SHINee memenangkan “Popularity Award” bersama dengan grup yang satu manajemen dengan mereka, Super Junior, pada acara Golden Disk Awards ke-24 . Pada bulan Februari 2010 mereka juga memenangkan “Bonsang Award” di Seoul Music Awards ke-19.

2010: album kedua Lucifer dan Album Repackage Hello

Delapan bulan setelah album mini ketiga mereka, SM Entertainment memunculkan foto teaser dari setiap member untuk album baru mereka, dimulai dengan Minho pada 8 Juli 2010 sampai tanggal 12 Juli 2010, yang diakhiri dengan Key. Group ini telah merencanakan kembalinya mereka di panggung KBS Music Bank pada tanggal 16 Juli 2010, untuk memulai promosi album baru mereka. Namun, dikarenakan cedera Minho pada saat syuting Dream Team 8 Juli, penampilan mereka ditunda hingga 23 Juli.[ Album penuh kedua dengan judul Lucifer, dijadwalkan rilis pada tanggal 19 Juli di Korea Selatan.

Album ini merupakan album repackage dari album kedua mereka, Lucifer. Album ini berisi 16 trek, 13 trek dari album Lucifer dan tambahan 3 trek baru. Trek dari album ini dirilis pada tanggal 1 oktober 2010, dan dijual di pasaran pada tanggal 4 Oktober 2010, dengan menggunakan “Hello” sebagai single yang dijagokan. Namun penampilan pertama lagu ini dilakukan pada tanggal 1 Oktober 2010 di atas panggung KBS Music Bank. Music Video untuk lagu ini sendiri baru dirilis pada tanggal 4 Oktober 2010.

2011: SHINee World The 1st Concert

Konser ini merupakan konser pertama mereka di Olympic Park Stadium, Seoul. Konser ini berlangsung pada tanggal 1 dan 2 Januari 2011.

Kegiatan lain

Shinee pernah menjadi bintang dalam acara realitas, Shinee’s YunHaNam di televisi kabel MNet. Acara ini hanya berlangsung 12 episode dari 8 Agustus 2008 hingga 16 Oktober 2008. Dalam setiap episode, anggota Shinee ditugaskan untuk berkencan dengan wanita yang usianya berada di atas usia anggota Shinee, sebelum akhirnya wanita tersebut memilih sendiri anggota yang benar-benar akan diajak kencan berdua.[ Shinee juga merekam lagu “Stand By Me” untuk serial drama Boys Over Flowers yang diadaptasi dari manga Boys Over Flowers oleh Yoko Kamio selain menjadi model iklan Smart, Shinee juga merekam lagu “Blue Pink Song” untuk promosi produk mereka. Mereka juga merekam singel digital “Bodyguard” (보디가드) untuk promosi telepon genggam Samsung Anycall.[ Pada tahun 2009, mereka juga menjadi bintang dalam acara Hello Baby yang ditayangkan oleh KBS.

Anggota

  • Lee Jinki (이진기), tanggal lahir: 14 Desember 1989 (umur 21) , dikenal dengan nama panggung: Onew (온유). Ia adalah pemimpin Shinee sekaligus anggota tertua, bakatnya ditemukan dalam audisi “2006 S.M. Academy Casting”.  Onew bekerja sama dengan Lee Hyun Ji, mantan anggota Banana Girl untuk lagu Hyun Ji, “Vanilla Love”. Selain itu ia berduet dengan Jessica Girls’ Generation dalam lagu “One Year Later”.
  • Kim Jonghyun (김종현), tanggal lahir: 8 April 1990 (umur 21), umum dikenal sebagai Jonghyun adalah vokalis utama Shinee. Ia ditemukan ketika mengikuti audisi “2005 S.M. Casting System”. Sebelum bergabung dengan Shinee, Jonghyun pernah berduet bersama Zhang Liyin menyanyikan lagu “Wrongly Given Love” (交错的爱) untuk album pertama Zhang Liyin, I Will.
  • Kim Kibum (김기범), tanggal lahir: 23 September 1991 (umur 19), dikenal dengan nama panggung  Key () adalah vokalis dan salah seorang rapper Shinee. Ia adalah atlet ski air di Sekolah Menengah Dae Gu Young Shin.Bakatnya ditemukan ketika mengikuti audisi “2005 S.M. National Tour Audition Casting”. Sebelum bergabung dengan Shinee, Key dimunculkan sebagai figuran dalam film Super Junior, Attack on the Pin-Up Boys Key juga menjadi bintang tamu untuk rekan sesama perusahaan rekaman bernama Xiah untuk album solo “Xiahtic”.
  • Choi Minho (최민호), tanggal lahir: 9 Desember 1991 (umur 19) atau biasa dikenal sebagai Minho bertugas sebagai rapper Shinee. Ia ditemukan dalam audisi “2006 S.M. Casting System”.] Sebelum bergabung dengan Shinee, Minho adalah model produk busana “Seoul Collection F/W 08-09” dari Ha Sang Baek pada Maret 2008. Ia juga muncul dalam video musik Gee dari Girls’ Generation.
  • Lee Taemin (이태민), tanggal lahir: 18 Juli 1993 (umur 17), umum dikenal sebagai Taemin adalah penari utama sekaligus anggota termuda Shinee. Ia juga ditemukan sewaktu mengikuti audisi “2005 S.M. Open Weekend Audition Casting ” Pernah

berakting dalam komedi situasi

  • MBC TaeHee HyeGyo JiHyun (태희혜교지현이) sebagai Junsu

Bondan Prakoso (lahir 8 Mei 1984; umur 26 tahun) adalah pemusik Indonesia yang mengawali karier bermusik sebagai penyanyi cilik di tahun 80-an. Berkat album Si Lumba-lumba namanya melambung. Alumni D3 Sastra Belanda Universitas Indonesia ini memulai karier remaja dan dewasanya saat membentuk band Funky Kopral ditahun 1999 hingga tahun 2002. Kini ia membentuk band baru bernama Bondan Prakoso & Fade 2 Black.

Profil

Bondan Prakoso adalah anak kedua dari tiga bersaudara pasangan dari Lili Yulianingsih dan Sisco Batara ini mengawali kariernya sebagai penyanyi cilik di era 80-an hingga awal tahun 90-an. Album perdananya yang bertitel Si Lumba-Lumba sukses dipasaran dan mencuatkan namanya.

Ditahun 1999, Bondan membentuk band Funky Kopral , sebagai bassis, hingga merilis 3 buah album. Bahkan album kedua band ini diganjar penghargaan AMI Sharp Awards ditahun 2001 untuk kategori Group Alternatif Terbaik. Ditahun 2003, Funky Kopral merilis album ketiga mereka dengan kolaborasi bersama Setiawan Djodi dengan hits singel Tokek dan lagi-lagi diganjar penghargaan AMI Sharp Awards ditahun 2003 untuk kategori Kolaborasi Rock Terbaik.

Sayang, setelah album ketiga mereka dirilis, band ini bubar. Hingga ditahun 2005 ia memebentuk band baru bernama Bondan Prakoso & Fade 2 Black dengan genre musik Pop Rock yang dipadu dengan Rap. Dengan band barunya ini, Bondan diganjar penghargaan serupa, yakni AMI Sharp Awards ditahun 2008 untuk kategori Group Rap Terbaik.

Sebelumnya, ditahun 2006 Bondan bersama 12 orang pemain bass dari berbagai band di Indonesia seperti Thomas “GIGI”, Rindra “Padi”, Bongky “BIP”, Adam Sheila on 7 dan bassis Indonesia lainnya diganjar penghargaan oleh MURI untuk penghargaan Penampilan Bassis terbanyak dalam satu panggung.

Kehidupan pribadi

Pada tanggal 17 Desember 2007, Bondan menikahi kekasihnya yang bernama Margareth atau yang akrab disapa Margie yang bertempat di Restoran Cibintung, Ciputat, Tangerang, dengan mas kawin berupa seperangkat alat salat dan 17 gram emas.


“Merah Putih” beralih ke halaman ini. Untuk film tahun 2009, lihat Merah Putih (film).
Untuk lagu “Merah Putih”, lihat Merah Putih (lagu).
Bendera Indonesia
Flag of Indonesia.svg
Informasi Umum
Nama negara Republik Indonesia
Sebutan Sang Saka Merah Putih
Proporsi 2:3
Dipakai sejak 17 Agustus 1945
Desain Berdesain warna merah (diatas) dan putih (dibawah).
Pemakaian Hari Besar Nasional
Penggunaan Nasional

Bendera Negara Kesatuan Republik Indonesia, yang secara singkat disebut Bendera Negara, adalah Sang Merah Putih. Bendera Negara Sang Merah Putih berbentuk empat persegi panjang dengan ukuran lebar 2/3 (dua-pertiga) dari panjang serta bagian atas berwarna merah dan bagian bawah berwarna putih yang kedua bagiannya berukuran sama.

 Sejarah

Warna merah-putih bendera negara diambil dari warna Kerajaan Majapahit. Sebenarnya tidak hanya kerajaan Majapahit saja yang memakai bendera merah putih sebagai lambang kebesaran. Sebelum Majapahit, kerajaan Kediri telah memakai panji-panji merah putih. Selain itu, bendera perang Sisingamangaraja IX dari tanah Batak pun memakai warna merah putih sebagai warna benderanya , bergambar pedang kembar warna putih dengan dasar merah menyala dan putih. Warna merah dan putih ini adalah bendera perang Sisingamangaraja XII. Dua pedang kembar melambangkan piso gaja dompak, pusaka raja-raja Sisingamangaraja I-XII.[1] Ketika terjadi perang di Aceh, pejuang – pejuang Aceh telah menggunakan bendera perang berupa umbul-umbul dengan warna merah dan putih, di bagian belakang diaplikasikan gambar pedang, bulan sabit, matahari, dan bintang serta beberapa ayat suci Al Quran.[2] Di zaman kerajaan Bugis Bone,Sulawesi Selatan sebelum Arung Palakka, bendera Merah Putih, adalah simbol kekuasaan dan kebesaran kerajaan Bone.Bendera Bone itu dikenal dengan nama Woromporang.[3] Pada waktu perang Jawa (1825-1830 M) Pangeran Diponegoro memakai panji-panji berwarna merah putih dalam perjuangannya melawan Belanda. Kemudian, warna-warna yang dihidupkan kembali oleh para mahasiswa dan kemudian nasionalis di awal abad 20 sebagai ekspresi nasionalisme terhadap Belanda. Bendera merah putih digunakan untuk pertama kalinya di Jawa pada tahun 1928. Di bawah pemerintahan kolonialisme, bendera itu dilarang digunakan. Sistem ini diadopsi sebagai bendera nasional pada tanggal 17 Agustus 1945, ketika kemerdekaan diumumkan dan telah digunakan sejak saat itu pula. [4]

Bendera Belanda digunakan sejak 20 Maret 16028 Maret 1942 (340 tahun)

Bendera Jepang digunakan sejak 8 Maret 194217 Agustus 1945 (3 tahun 5 bulan)

Bendera Merah Putih digunakan sejak 17 Agustus 1945[5]

Arti Warna

Bendera Indonesia memiliki makna filosofis. Merah berarti berani, putih berarti suci. Merah melambangkan tubuh manusia, sedangkan putih melambangkan jiwa manusia. Keduanya saling melengkapi dan menyempurnakan untuk Indonesia.

Ditinjau dari segi sejarah, sejak dahulu kala kedua warna merah dan putih mengandung makna yang suci. Warna merah mirip dengan warna gula jawa/gula aren dan warna putih mirip dengan warna nasi. Kedua bahan ini adalah bahan utama dalam masakan Indonesia, terutama di pulau Jawa. Ketika Kerajaan Majapahit berjaya di Nusantara, warna panji-panji yang digunakan adalah merah dan putih (umbul-umbul abang putih). Sejak dulu warna merah dan putih ini oleh orang Jawa digunakan untuk upacara selamatan kandungan bayi sesudah berusia empat bulan di dalam rahim berupa bubur yang diberi pewarna merah sebagian. Orang Jawa percaya bahwa kehamilan dimulai sejak bersatunya unsur merah sebagai lambang ibu, yaitu darah yang tumpah ketika sang jabang bayi lahir, dan unsur putih sebagai lambang ayah, yang ditanam di gua garba.

 Peraturan Tentang Bendera Merah Putih

Bendera negara diatur menurut UUD ’45 pasal 35 [6], UU No 24/2009, dan Peraturan Pemerintah No.40/1958 tentang Bendera Kebangsaan Republik Indonesia [7]

Menurut UU No 24 Tahun 2009 tentang Bendera, Bahasa, dan Lambang Negara, serta Lagu Kebangsaan. (LN 2009 Nmr 109, TLN 5035):

  • Bendera Negara dibuat dari kain yang warnanya tidak luntur.
  • Bendera Negara dibuat dengan ketentuan ukuran:
  1. 200 cm x 300 cm untuk penggunaan di lapangan istana kepresidenan;
  2. 120 cm x 180 cm untuk penggunaan di lapangan umum;
  3. 100 cm x 150 cm untuk penggunaan di ruangan;
  4. 36 cm x 54 cm untuk penggunaan di mobil Presiden dan Wakil Presiden;
  5. 30 cm x 45 cm untuk penggunaan di mobil pejabat negara;
  6. 20 cm x 30 cm untuk penggunaan di kendaraan umum;
  7. 100 cm x 150 cm untuk penggunaan di kapal;
  8. 100 cm x 150 cm untuk penggunaan di kereta api;
  9. 30 cm x 45 cm untuk penggunaan di pesawat udara;dan
  10. 10 cm x 15 cm untuk penggunaan di meja.
  • Pengibaran dan/atau pemasangan Bendera Negara dilakukan pada waktu antara matahari terbit hingga matahari terbenam. Dalam keadaan tertentu pengibaran dan/atau pemasangan Bendera Negara dapat dilakukan pada malam hari.
  • Bendera Negara wajib dikibarkan pada setiap peringatan Hari Kemerdekaan Bangsa Indonesia tanggal 17 Agustus oleh warga negara yang menguasai hak penggunaan rumah, gedung atau kantor, satuan pendidikan, transportasi umum, dan transportasi pribadi di seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia dan di kantor perwakilan Republik Indonesia di luar negeri.
  • Bendera Negara wajib dikibarkan setiap hari di:
  1. istana Presiden dan Wakil Presiden;
  2. gedung atau kantor lembaga negara;
  3. gedung atau kantor lembaga pemerintah;
  4. gedung atau kantor lembaga pemerintah nonkementerian;
  5. gedung atau kantor lembaga pemerintah daerah;
  6. gedung atau kantor dewan perwakilan rakyat daerah;
  7. gedung atau kantor perwakilan Republik Indonesia di luar negeri;
  8. gedung atau halaman satuan pendidikan;
  9. gedung atau kantor swasta;
  10. rumah jabatan Presiden dan Wakil Presiden;
  11. rumah jabatan pimpinan lembaga negara;
  12. rumah jabatan menteri;
  13. rumah jabatan pimpinan lembaga pemerintahan nonkementerian;
  14. rumah jabatan gubernur, bupati, walikota, dan camat;
  15. gedung atau kantor atau rumah jabatan lain;
  16. pos perbatasan dan pulau-pulau terluar di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia;
  17. lingkungan Tentara Nasional Indonesia dan Kepolisian Republik Indonesia; dan
  18. taman makam pahlawan nasional.

Momentum pengibaran bendera asli setelah deklarasi kemerdekaan pada tanggal 17 Agustus 1945.

  • Bendera Negara sebagai penutup peti atau usungan jenazah dapat dipasang pada peti atau usungan jenazah Presiden atau Wakil Presiden, mantan Presiden atau mantan Wakil Presiden, anggota lembaga negara, menteri atau pejabat setingkat menteri, kepala daerah, anggota dewan perwakilan rakyat daerah, kepala perwakilan diplomatik, anggota Tentara Nasional Indonesia, anggota Kepolisian Republik Indonesia yang meninggal dalam tugas, dan/atau warga negara Indonesia yang berjasa bagi bangsa dan negara.
  • Bendera Negara yang dikibarkan pada Proklamasi Kemerdekaan Bangsa Indonesia tanggal 17 Agustus 1945 di Jalan Pegangsaan Timur Nomor 56 Jakarta disebut Bendera Pusaka Sang Saka Merah Putih. Bendera Pusaka Sang Saka Merah Putih disimpan dan dipelihara di Monumen Nasional Jakarta.
  • Setiap orang dilarang:
  1. merusak, merobek, menginjak-injak, membakar, atau melakukan perbuatan lain dengan maksud menodai, menghina, atau merendahkan kehormatan Bendera Negara;
  2. memakai Bendera Negara untuk reklame atau iklan komersial;
  3. mengibarkan Bendera Negara yang rusak, robek, luntur, kusut, atau kusam;
  4. mencetak, menyulam, dan menulis huruf, angka, gambar atau tanda lain dan memasang lencana atau benda apapun pada Bendera Negara; dan
  5. memakai Bendera Negara untuk langit-langit, atap, pembungkus barang, dan tutup barang yang dapat menurunkan kehormatan Bendera Negara.

Kemiripan dengan bendera negara lain

!Artikel utama untuk bagian ini adalah: Daftar bendera dwiwarna merah-putih

Menurut kesetaraan kedudukannya sebagai bendera nasional, bendera ini mirip dengan Bendera Monako yang mempunyai warna sama namun rasio yang berbeda, selain itu bendera ini juga mirip dengan Bendera Polandia yang mempunyai warna yang sama namun warnanya terbalik.

Daftar bendera yang mirip dengan bendera Indonesia

Bendera Indonesia


Beberapa hari menjelang peringatan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan RI pertama. Presiden Soekamo memberi tugas kepada ajudannya, Mayor M. Husein Mutahar untuk mempersiapkan upacara peringatan Detik-Detik Proklamasi Kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1946, dihalaman Istana Presiden Gedung Agung Yogyakarta.

Pada saat itu, sebuah gagasan berkelebat di benak Mutahar. Alangkah baiknya bila persatuan dan kesatuan bangsa dapat dilestarikan kepada generasi muda yang kelak akan menggantikan para pemimpin saat itu. Pengibaran bendera pusaka bisa menjadi simbol kesinambungan nilai-nilai perjuangan. Karena itu, para pemudalah yang harus mengibarkan bendera pusaka. Dari sanalah kemudian dibentuk kelompokkelompok pengibar bendera pusaka, mulai dari lima orang pemuda-pemudi pada tahun 1946 —yang menggambarkan Pancasila.

Husein MutaharNamun, Mutahar mengimpikan bila kelak para pengibar bendera pusaka itu adalah pemuda-pemuda utusan dari seluruh daerah di Indonesia. Sekembalinya ibukota Republik Indonesia ke Jakarta, mulai tahun 1950 pengibaran bendera pusaka dilaksanakan di Istana Merdeka Jakarta. Regu-regu pengibar dibentuk dan diatur oleh Rumah Tangga Kepresidenan Rl sampai tahun 1966. Para pengibar bendera itu memang para pemuda, tapi belum mewakili apa yang ada dalam pikiran Mutahar. Tahun 1967, Husain Mutahar kembali dipanggil Presiden Soeharto untuk dimintai pendapat dan menangani masalah pengibaran bendera pusaka. Ajakan itu, bagi Mutahar seperti “mendapat durian runtuh” karena berarti ia bisa melanjutkan gagasannya membentuk pasukan yang terdiri dari para pemuda dari seluruh Indonesia. Tersirat dalam benak Husain Mutahar akhirnya menjadi kenyataan. Setelah tahun sebelumnya diadakan ujicoba, maka pada tahun 1968 didatangkanlah pada pemuda utusan daerah dari seluruh Indonesia untuk mengibarkan bendera pusaka. Sayang, belum seluruhnya provinsi bisa mengirimkan utusannya, sehingga pasukan pengibar bendera pusaka tahun itu masih harus ditambah dengan eks anggota pasukan tahun 1967.

Selama enam tahun, 1967-1972, bendera pusaka dikibarkan oleh para pemuda utusan daerah dengan sebutan “Pasukan Penggerek Bendera Pusaka”. Nama, pada kurun waktu itu memang belum menjadi perhatian utama, karena yang terpenting tujuan mengibarkan bendera pusaka oleh para pemuda utusan daerah sudah menjadi kenyataan. Dalam mempersiapkan Pasukan Penggerek Bendera Pusaka, Husein Mutahar sebagai Dirjen Udaka (Urusan Pemuda dan Pramuka) tentu tak dapat bekerja sendiri. Sejak akhir 1967, ia mendapatkan dukungan dari Drs Idik Sulaeman yang dipindahtugaskan ke Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (dari Departemen Perindustrian dan Kerajinan) sebagai Kepala Dinas Pengembangan dan Latihan. Idik yang terkenal memiliki karakter kerja sangat rapi dan teliti, lalu mempersiapkan konsep pelatihan dengan sempurna, baik dalam bidang fisik, mental, maupun spiritual. Latihan yang merupakan derivasi dari konsep Kepanduan itu diberi nama ”Latihan Pandu Ibu Indonesia Ber-Pancasila”. Setelah melengkapi silabus latihan dengan berbagai atribut dan pakaian seragam, pada tahun 1973 Idik Sulaeman melontarkan suatu gagasan baru kepada Mutahar. ”Bagaimana kalau pasukan pengibar bendera pusaka kita beri nama baru,” katanya. Mutahar yang tak lain mantan pembina penegak Idik di Gerakan Pramuka menganggukkan kepala. Maka, kemudian meluncurlah sebuah nama antik berbentuk akronim yang agak sukar diucapkan bagi orang yang pertama kali menyebutnya. Akronim itu adalah PASKIBRAKA, yang merupakan singkatan dari Pasukan Pengibar Bendera Pusaka. ”Pas” berasal dari kata pasukan, ”kib” dari kata kibar, ”ra” dari kata bendera dan ”ka” dari kata pusaka. Idik yang sarjana senirupa lulusan Institut Teknologi Bandung (ITB) itupun juga segera memainkan kelentikan tangannya dalam membuat sketsa. Hasilnya, adalah berbagai atribut yang digunakan Paskibraka, mulai dari Lambang Anggota, Lambang Korps, Kendit Kecakapan sampai Tanda Pengukuhan (Lencana Merah-Putih Garuda/MPG). Nama Paskibraka dan atribut baru itulah yang dipakai sejak tahun 1973 sampai sekarang. Sulitnya penyebutan akronim Paskibraka memang sempat mengakibatkan kesalahan ucap pada sejumlah reporter televisi saat melaporkan siaran langsung pengibaran bendera pusaka setiap tanggal 17 Agustus di Istana Merdeka. Bahkan, tak jarang wartawan media cetak masih ada yang salah menuliskannya dalam berita, misalnya dengan ”Paskibrata”. Tapi, bagi para anggota Paskibraka, Purna (mantan) Paskibraka maupun orang-orang yang terlibat di dalamnya, kata Paskibraka telah menjadi sesuatu yang sakral dan penuh kebanggaan.

Memang pernah, suatu kali nama Paskibraka akan diganti, bahkan pasukannya pun akan dilikuidasi. Itu terjadi pada tahun 2000 ketika Presiden Republik Indonesia dijabat oleh KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur. Kata ”pusaka” yang ada dalam akronim Paskibraka dianggap Gus Dur mengandung makna ”klenik”. Untunglah, dengan perjuangan keras orang orang yang berperan besar dalam sejarah Paskibraka, akhirnya niat Gus Dur untuk melikuidasi Paskibraka dapat dicegah. Apalagi, Peraturan Pemerintah No. 40 Tahun 1958 tentang Bendera Kebangsaan Republik Indonesia, pada pasal 4 jelas-jelas menyebutkan: (1) BENDERA PUSAKA adalah Bendera Kebangsaan yang digunakan pada upacara Proklamasi Kemerdekaan di Jakarta pada tanggal 17 Agustus 1945. (2) BENDERA PUSAKA hanya dikibarkan pada tanggal 17 Agustus. (3) Ketentuan-ketentuan pada Pasal 22 tidak berlaku bagi BENDERA PUSAKA. (Pasal 22: Apabila Bendera Kebangsaan dalam keadaan sedemikian rupa, hingga tak layak untuk dikibarkan lagi, maka bendera itu harus dihancurkan dengan mengingat kedudukannya, atau dibakar). Itu berati, bila Presiden ngotot mengubah nama Paskibraka, berarti dia melanggar PP No. 40 Tahun 1958. Presiden akhirnya tidak jadi membubarkan Paskibraka, tapi meminta namanya diganti menjadi ”Pasukan Pengibar Bendera Merah-Putih” saja. Hal ini di-iyakan saja, tapi dalam siaran televisi dan pemberitaan media massa, nama pasukan tak pernah diganti. Paskibraka yang telah menjalani kurun sejarah 32 tahun tetap seperti apa adanya, sampai akhirnya Gus Dur sendiri yang dilengserkan.

PURNA PASKIBRAKA INDONESIA
Dari Dulu Hingga Kini 

Logo Purna Paskibraka IndonesiaCikal bakal berdirinya organisasi alumni Paskibraka sebenarnya dimulai secara nyata di Yogyakarta. Pada tahun 1975, sejumlah alumni (Purna) Paskibraka tingkat Nasional yang ada di Yogya, berkeinginan untuk mendirikan organisasi alumni, lalu mereka menyampaikan keinginan itu kepada para pembina di Jakarta. Para pembina lalu menawarkan sebuah nama, yakni REKA PURNA PASKIBRAKA yang berarti ikatan persahabatan para alumni Paskibraka. Tapi, di Yogya nama itu kemudian digodok lagi dan akhirnya disepakati menjadi PURNA EKA PASKIBRAKA (PEP) Yogyakarta, yang artinya wadah berhimpun dan pengabdian para alumni Paskibraka. PEP DI Yogya resmi dikukuhkan pada 28 Oktober 1976. Seiring dengan itu, para alumni Paskibraka di Jakarta kemudian meneruskan gagasan pendirian organisasi REKA PURNA PASKIBRAKA (RPP). Sementara di Bandung, berdiri pula EKA PURNA PASKIBRAKA (EPP). Namun, dalam perkembangannya, ketiga organisasi itu belum pernah melakukan koordinasi secara langsung untuk membentuk semacam forum komunikasi di tingkat pusat. Sementara itu, di daerah lain belum ada keinginan untuk membentuk organisasi, karena jumlah alumninya masih sedikit — berbeda dengan Jakarta, Bandung dan Yogya yang menjadi kota tujuan para alumni Paskibraka untuk melanjutkan sekolah. Sampai awal 80-an, alumni Paskibraka di daerah lain hanya dibina melalui Bidang Binmud Kanwil Depdikbud. Mereka selalu dipanggil sebagai perangkat dalam pelaksanaan berbagai upacara dan kegiatan. Mereka dilibatkan dalam kegiatan pembinaan generasi muda, karena dianggap potensial sesuai predikatnya.

Tahun 1980, Direktorat Pembinaan Generasi Muda (PGM) berinisiatif untuk mendayagunakan potensi alumni berbagai program yang telah dilaksanakan, termasuk program pertukaran pemuda Indonesia dengan luar negeri (saat itu baru CWY atau Indonesia-Kanada dan SSEAYP atau Kapal Pemuda ASEAN-Jepang). Organisasi itu diberi nama PURNA CARAKA MUDA INDONESIA (PCMI). Maka, selain di Jakarta, Bandung dan Yogya, seluruh Purna Paskibraka di daerah lainnya digabungkan dalam PCMI. Hal itu berlangsung sampai tahun 1985, ketika Direktorat PGM ”menyadari” bahwa penggabungan Purna Paskibraka dengan alumni pertukaran pemuda bukanlah sebuah pilihan yang tepat. Karena itu, sebagai hasil dari Lokakarya Pembinaan Purna Program Binmud di Cisarua, Bogor —yang dihadiri oleh para Kabid Binmud seluruh Indonesia serta para alumni Paskibraka dan pertukaran pemuda— dikeluarkan SK Dirjen Diklusepora No. Kep.091/ E/O/1985 tanggal 10 Juli 1985 yang memisahkan para alumni dalam dua organisasi, masing-masing PCMI untuk alumni pertukaran pemuda dan PURNA PASKIBRAKA INDONESIA (PPI) untuk alumni Paskibraka. Dengan alasan untuk menjaga agar keputusan itu tidak ”mencederai hati” para Purna Paskibraka yang telah lebih dulu mendirikan PEP, RPP dan EPP, maka ditetapkanlah bahwa PPI adalah organisasi binaan Depdikbud yang bersifat regionalprovinsial. Artinya, organisasi itu ada di tiap provinsi namun tidak mempunyai Pengurus di tingkat pusat. Itu, sebenarnya sebuah pilihan yang sulit, bahkan ”absurd”. Bagaimana sebuah organisasi bernama sama dan ada di tiap provinsi tapi tidak mempunyai forum komunikasi dan koordinasi di tingkat pusat. Ternyata, hal itu dipicu oleh kekhawatiran organisasi kepemudaan ”tunggal” asuhan pemerintah yang melihat PPI adalah sebuah ancaman. Namun, dengan kegigihan para Purna Paskibraka yang ada di Jakarta, akhirnya kebekuan itu dapat dicairkan. Empat tahun harus menunggu dan bekerja keras untuk dapat menghadirkan Pengurus PPI daerah dalam sebuah Musyawarah Nasional (Munas). Tanggal 21 Desember 1989, melalui Munas I di Cipayung, Bogor, terbentuklah secara resmi PPI Pusat, lengkap dengan perangkat Anggaran Dasar (AD) dan Anggaran Rumah Tangga (ART).

menjelang peringatan kemerdekaan Republik Indonesia, biasanya akan ada persiapan upacara. Disini, utamanya di lingkungan sekolah, akan tampil para pelajar yang akan bertugas membawa bendera dan mengibarkannya satu tiang penuh pada saat tanggal 17 Agustus. Mereka biasa disebut dengan istilah pasukan pengibar bendera pusaka (paskibraka), yang terbagi dalam tiga formasi sesuai tanggal proklamasi kemerdekaan Indonesia, yakni formasi 17 sebagai pengiring (pemandu), formasi 8 sebagai pembawa (inti), dan formasi 45 sebagai pengawal.
Seleksi untuk menjadi anggota paskibraka, apalagi tingkat nasional, tidaklah mudah. Walaupun demikian, tidak menyurutkan niat dan semangat generasi muda kita untuk tetap mengikutinya. Kebanggaan sebagai anak bangsa mengalahkan segalanya.
Kriteria umum calon anggota Paskibraka adalah sebagai berikut :
1. Pendidikan: pelajar sekolah setingkat SMTA, berusia antara 16 � 18 tahun.
2. Mempunyai akhlak dan moral yang baik: mentaati kewajiban agama yang dianutnya, memahami norma-norma etika yang berlaku dalam masyarakat, berbudi pekerti luhur serta mempunyai tingkah laku yang baik; memahami, mempunyai dan melaksanakan etika, sopan santun pergaulan yang baik.
3. Berkepribadian: mudah dan pandai bergaul, bersahaja, sopan dan disiplin; mandiri, cerdas dan mempunyai prestasi akademis/sekolah yang baik.
4. Kesehatan: sehat jasmani dan rohani, sigap, tangkas dan licah; tegap, tidak cacat badan dan tidak berkaca mata, tinggi badan minimal: putra: 165 cm, putri: 160 cm; berpenampilan segar, bersih dan menarik.
5. Keterampilan: mahir baris berbaris, menguasai peraturan dan perlakuan tentang bendera kebangsaan dan dapat melaksanakan tugas pengibaran dengan baik; mempunyai pengetahuan umum secara daerah, nasional maupun internasional dengan sangat baik; menguasai/terampil melakukan budaya/kesenian daerahnya.
TAHAP SELEKSI
Seseorang yang akan menjadi anggota Paskibraka wajib dan harus melalui beberapa tahap seleksi, yaitu :
1. Seleksi tingkat sekolah.
Peserta dipilih dan diseleksi di sekolahnya oleh para guru.
2. Seleksi tingkat kotamadya/kabupaten.
Peserta dari perwakilan sekolah akan diseleksi di tingkat Kotamadya/ Kabupaten dengan materi: baris berbaris, tata upacara bendera, kesegaran jasmani/olah raga, tes tertulis, wawancara, kesenian dan lain sebagainya. Tes tertulis dan wawasncara meliputi bidang: pengetahuan umum, pengetahuan daerah, nasional dan internasional, kepemudaan, nasionalisme dan sejarah perjuangan bangsa.
Dari seleksi ini akan terpilih satu atau dua pasang calon anggota paskibraka yang akan mengikuti seleksi di tingkat propinsi. Bagi yang tidak lolos maka akan diseleksi lagi untuk terpilih sebagai anggota paskibraka tingkat kotamadya/kabupaten.
3. Seleksi tingkat propinsi :
Peserta test tingkat propinsi adalah peserta yang lulus tes di tingkat kotamadya/kabupaten di masing-masing propinsi, dengan materi seleksi sama dengan di tingkat kotamadya/kabupaten. Biasanya peserta di tingkat propinsi akan tinggal di asrama selama beberapa hari untuk mengetahui tekad, semangat dan kemandiran. Selain itu akan terlihat kebiasaan masing-masing peserta terutama dalam melaksanakan tugas sehari-hari seperti di rumahnya masing-masing misalnya mencuci, mengepel, membersihkan dan mengatur kamar dan lain sebagainya.
Dari seleksi tingkat propinsi akan terpilih sepasang utusan (satu orang putra dan satu orang putri) untuk menjadi anggota paskibraka di tingkat nasional. Bagi yang tidak terpilih akan bertugas sebagai anggota paskibraka di tingkat propinsi.
4. Anggota Paskibraka Nasional.
Anggota Paskibraka tingkat nasional adalah sepasang utusan tiap propinsi yang akan mengikuti pemusatan latihan selama satu bulan di Jakarta. Mereka akan bertugas pada puncak peringatan Hari Ulang Tahun Proklamasi di Istana Merdeka Jakarta. Dalam pemusatan latihan di asrama akan dilakukan seleksi untuk pembagian siapa saja para wakil dari 33 propinsi itu yang masuk ke dalam kelompok 17 dan 8. Selain itu, tentunya ada sejumlah tugas yang harus dijalankan di masing-masing kelompok. Sedangkan kelompok 45 berisikan Pasukan Pengawal Presiden (Paspampres).
SEJARAH PASKIBRAKA
Pada hari Jumat Legi di bulan puasa, tanggal 17 Agustus 1945, pukul 10.00, naskah proklamasi dibacakan oleh Soekarno. Bendera Merah Putih dikibarkan dan lagu Indonesia Raya dinyanyikan.
Sebanyak 10 juta bendera Merah Putih kemudian disebar ke seluruh penjuru tanah air. Mulai tanggal 1 September 1945 setiap warga meneriakkan ucapan MERDEKA! sebagai salam setiap berjumpa. Salam ini dilakukan dengan mengangkat telapak tangan setinggi bahu.
Pada tanggal 3 Januari 1946 Presiden dan Wakil Presiden berpindah dikarenakan masalah keamanan menuju Yogyakarta pada malam hari dengan kereta api.
Sejak itu pemerintahan berada di Yogyakarta dan Bendera Merah Putih berkibar di tiang bendera yang besar dan tinggi di depan Gedung Agung yang tampak lebih sepadan bila dibandingkan di tiang bendera di Pengangsaan Timur. Bendera Merah Putih berkibar dengan megah di halaman Gedung Agung setiap hari.
Tanggal 17 Agustus 1946 dilakukan peringatan ulang tahun pertama kemerdekaan Republik Indonesia di Yogyakarta.
Husein Mutahar, ketika itu sudah menjadi seorang ajudan Presiden Soekarno, dikenal juga sebagai pandu yang aktif diberi tugas untuk menyusun upacara pengibaran bendera. Ia mempunyai pemikiran bahwa untuk menumbuhkan rasa persatuan bangsa maka pengibaran bendera Merah Putih sebaiknya dilakukan oleh para pemuda yang mewakili daerah-daerah Indonesia.
Husein Mutahar kemudian memilih lima orang pemuda yang bermukim di Yogyakarta, 3 orang laki-laki dan 2 orang perempuan. Jumlah lima orang ini merupakan simbol Pancasila.
Upacara bendera Pusaka Merah Putih di halaman Gedung Agung, Yogyakarta, dilaksanakan lagi pada tanggal 17 Agustus 1947, 1948 dan 1949 dengan menampilkan para pemuda dari daerah-daerah lainnya.
Belanda mengakui kedaulatan RI yang ditanda tangani pada tgl 27 Desember 1949. Setelah itu, Presiden Soekarno kembali ke Jakarta, dan ibukota Republik pun kembali ke Jakarta.
Bung Karno menempatkan bendera Merah Putih dalam sebuah peti berukir, saat turun dari pesawat yang pertama kali keluar adalah pengawal kehormatan mengiringkan Sang Merah Putih kemudian disusul penumpang yang lain yang disambut dengan pekik Merdeka�Merdeka�! oleh rakyat yang menyambut.
Sejak itu Bendera Pusaka dikibarkan di halaman Istana Merdeka pada detik-detik Proklamasi setiap tahun.
Pada tahun 1967, Husein Mutahar yang menjabat sebagai Dirjen Urusan Pemuda dan Pramuka (UDAKA) Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, diberi tugas untuk menyusun tatacara pengibaran Bendera Pusaka.
Beliau membentuk pasukan yang terdiri atas 3 kelompok yaitu; kelompok 17 sebagai pengiring/pemandu, kelompok 8 sebagai inti pembawa bendera, dan kelompok 45 sebagai pengawal.
Ini merupakan simbol dari tanggal Proklamasi Kemerdekaan RI 17 Agustus 1945 (17-8-45). Pada waktu itu dengan situasi kondisi yang ada, beliau melibatkan putra daerah yang ada di Jakarta dan menjadi anggota Pandu/Pramuka untuk melaksanakan tugas Pengibaran Bendera Pusaka.
Pasukan ini kemudian disebut PASKIBRAKA (Pasukan Pengibar Bendera Pusaka).
Semula rencana beliau untuk kelompok 45 (pengawal) akan terdiri dari para Mahasiswa AKABRI (Generasi Muda ABRI). Usul lain menggunakan anggota Pasukan Khusus ABRI (seperti RPKAD, PGT, MARINIR dan BRIMOB) juga tidak mudah, akhirnya diambil dari Pasukan Pengawal Presiden (PASWALPRES) yang mudah dihubungi dan sekaligus mereka bertugas di Istana Negara Jakarta.
Pada 17 Agustus 1968, petugas pengibar Bendera Pusaka adalah para pemuda utusan propinsi. Tetapi propinsi-propinsi belum seluruhnya mengirimkan utusan sehingga masih harus ditambah oleh eks-anggota pasukan tahun 1967.
Pada masa Presiden Soeharto Bendera Pusaka di kibarkan hanya 2 kali, yaitu pada 17 Agustus 1967 dan 17 Agustus 1968 karena kondisi bendera yang tidak memungkinkan lagi.
Tanggal 5 Agustus 1969 di Istana Negara Jakarta berlangsung upacara penyerahan duplikat Bendera Pusaka Merah Putih dan reproduksi Naskah Proklamasi oleh Presiden Suharto kepada Gubernur/Kepala Daerah Tingkat I seluruh Indonesia.
Bendera duplikat (dari 6 carik kain) mulai dikibarkan menggantikan Bendera Pusaka pada peringatan Hari Ulang Tahun Proklamasi Kemerdekaan RI tanggal 17 Agustus 1969 di Istana Merdeka Jakarta, sedangkan Bendera Pusaka bertugas mengantar dan menjemput bendera duplikat yang dikibar/diturunkan.
Pada tahun itu resmi anggota PASKIBRAKA adalah para remaja siswa SMTA se-Indonesia yang merupakan utusan dari 26 propinsi di Indonesia, dan tiap propinsi diwakili oleh sepasang remaja.
Dari tahun 1967 sampai tahun 1972 anggota yang terlibat masih dinamakan sebagai anggota “Pengerek Bendera”.
Pada tahun 1973, Idik Sulaeman melontarkan suatu nama untuk Pengibar Bendera Pusaka dengan sebutan PASKIBRAKA. PAS berasal dari PASukan, KIB berasal dari KIBar mengandung pengertian PENGIBAR, RA berarti BendeRA dan KA berarti PusaKA, mulai saat itu singkatan anggota pengibar bendera pusaka adalah PASKIBRAKA
Bendera Pusaka yang sudah rapuh ditempatkan di sebuah peti berukir dan dipakai untuk mengiringi pengibaran Duplikat Bendera Pusaka setiap 17 Agustus di Istana Merdeka.
Mulai tahun 1999 sampai sekarang Bendera Pusaka tidak mengiringi dalam pengibaran karena sudah sangat renta.
SEJARAH PURNA PASKIBRAKA INDONESIA
Pada tahun 1975, sejumlah alumni (purna) Paskibraka tingkat nasional berkeinginan untuk mendirikan organisasi alumni. Kemudian mereka menyampaikan keinginan tersebut kepada para pembina di Jakarta. Pembina menawarkan sebuah nama, Reka Purna Paskibraka (RPP), yang berarti persahabatan pada alumni Paskibraka. Kemudian digodok lagi menjadi Purna Eka Paskibraka (PEP), yang berarti wadah berhimpun dan pengabdian para alumni Paskibraka, dan resmi dikukuhkan pada tanggal 28 Oktober 1976.
Para alumni di Jakarta meneruskan gagasan pendirian RPP, dan di Bandung berdiri pula Eka Purna Paskibraka (EPP). Ketiga organisasi hanya terkoordinasi dibawah bidang binmud kanwil depdikbud dan belum membentuk forum komunikasi di tingkat pusat.
Tahun 1980, Direkorat Pembinaan Generasi Muda (PGM) berinisiatif mendayagunakan potensi alumni berbagai program termasuk program pertukaran pemuda Indonesia Kanada dan SSEAYP (Kapal Pemuda Asean Jepang). Organisasi itu bernama Purna Caraka Muda Indonesia (PCMI). Selain Jakarta, Bandung, dan Jogya, seluruh Purna Paskibraka digabungkan ke dalam PCMI sampai dengan tahun 1985.
Surat Keputusan Dirjen Diklusepora No.Kep.091/E/O/1985 tanggal 10 Juli 1985, alumni Paskibraka dan pertukaran pemuda dipisahkan. Kemudian ditetapkan bahwa PPI adalah organisasi binaan yang bersifat regional dan provinsial, yang berarti organisasi PPI ada di tiap propinsi.
Purna Paskibraka Indonesia didirikan tanggal 21 Desember 1989 di Cipayung Bogor melalui Musyawarah Nasional I Purna Paskibraka Indonesia. Purna Paskibraka Indonesia adalah Organisasi Sosial Kemasyarakatan yang bertujuan :
Menghimpun dan membina para anggota agar menjadi warga Negara Indonesia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berjiwa Pancasila, setia dan patuh pada Negara Kesatuan Republik Indonesia dan menjadi Pandu Ibu Pertiwi.
Mengamalkan dan mengamalkan Pancasila
Membina watak,kemandirian dan profesionalisme,memelihara dan meningkatkan rasa persaudaraan, kekeluargaan, persatuan dan kesatuan, mewujudkan kerjasama yang utuh serta jiwa pengabdian kepada bangsa dan negara, memupuk rasa tanggung jawab dan daya cipta yang dinamis, serta kesadaran nasional di kalangan para anggota dan keluarganya.
Membentuk manusia Indonesia yang memiliki ketahanan mental (tangguh), cukup pengetahuan dan kemahiran teknis untuk dapat melaksanakan pekerjaannnya (tanggap ) serta daya tahan fisik / jasmani (tangkas).
Purna Paskibraka Indonesia mempunyai fungsi :
Pendorong dan pemrakarsa pembaharuan dengan menyelenggarakan kegiatan yang konstruktif sehingga dapat menjadi pelopor untuk kemajuan bangsa dan Negara.
Wadah pembinaan dan pengembangan potensi anggota sesuai dengan kebijaksanaan Pemerintah dan Peraturan Perundang-undangan yang berlaku.
Pengurus Purna Paskibraka Indonesia disusun secara vertikal dengan urutan, yaitu :
– Pengurus Pusat berkedudukan di Ibukota Negara RI
– Pengurus Propinsi berkedudukan di Ibukota Propinsi
– Pengurus Kabupaten/Kota berkedudukan di Ibukota Kabupaten / Kota
Lambang Purna Paskibraka Indonesia adalah bunga teratai yang dilingkari rantai berbentuk bulatan dan segi empat berjumlah 16 pasang. Makna dari lambang tersebut adalah :
– Lambang berupa bunga teratai yang tumbuh dari lumpur (tanah) dan berkembang di atas air, hal ini bermakna bahwa anggota Paskibraka adalah pemuda dan pemudi yang tumbuh dari bawah (orang biasa) dari tanah air yang sedang berkembang dan membangun.
– Bunga teratai berdaun bunga 3 (tiga) helai tumbuh ke atas (mahkota bunga), bermakna belajar, bekerja, dan berbakti.
– Bunga teratai berkelopak 3 (tiga) helai mendatar bermakna aktif, disiplin, dan gembira.
– Mata rantai berkaitan melambangkan persaudaraan yang akrab antar sesama generasi muda Indonesia yang ada di berbagai pelosok penjuru (16 penjuru arah mata angin) tanah air.
– Rantai persaudaraan ini tanpa memandang asal suku, agama, status sosial, dan golongan, akan membentuk jalinan mata rantai persaudaraan yang kokoh dan kuat. Sehingga mampu menangkal bentuk pengaruh dari luar dan memperkuat ketahanan nasional, melalui jiwa dan semangat persatuan dan kesatuan yang telah tertanam dalam dada setiap anggota Paskibraka.

SEJARAH PASKIBRAKA

1. Bendera Pusaka
Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia dikumandangkan pada hari Jum’at tanggal 17 Agustus 1945, pukul 10.00 di Jalan Pegangsaan Timur No. 56 Jakarta. Setelah pernyataan kemerdekaan tersebut, untuk pertama kalinya secara resmi Bendera Kebangsaan Merah Putih dikibarkan oleh Latief Hendaningrat dan Suhud. S. Bendera tersebut merupakan hasil jahitan Ibu Fatmawati Soekarno dan selanjutnya bendera inilah yang disebut “Bendera Pusaka”
Bendera Pusaka berkibar siang dan malam ditengah hujan, tembakan sampai Ibukota Republik Indonesia dipindahkan ke Yogyakarta pada tahun 1946.
Pada tahun 1948 Belanda melancarkan agresi militernya. Pada waktu itu Ibukota RI berada di Yogyakarta, Bapak Husein Mutahar (Bapak Paskibraka-red) ditugaskan oleh Presiden Soekarno untuk menyelematkan Bendera Pusaka. (Penyelematan Bendera tersebut merupakan salah satu bagian dari sejarah untuk menegakan berkibarnya Sang Merah Putih di persada Ibu Pertiwi)
Untuk menyelamatkan Bendera Pusaka tersebut terpaksa Bapak Husein Mutahar harus memisahkan antara bagian yang merah serta putihnya. Akhirnya dengan bantuan Ibu Perna Dinata benang jahitan diantara Bendera tersebut berhasil dipisahkan. Selanjutnya kedua bagian tersebut masing-masing di simpan sebagai dasar pada kedua tas Bapak Husein Mutahar yang selanjutnya tas tersebut diisi dengan pakaian serta perlengkapan pribadi miliknya. Hal ihwal Bendera tersebut dipisahkan, karena pada waktu itu beliau mempunyai pemikiran bahwa setelah dipisah Bendera tersebut tidak lagi dapat dikatakan Bendera karena hanya sebatas secarik kain. Hal ini dilakukan guna menghindari penyitaan dari pihak Belanda.
Tak lama setelah Presiden menyerahkan Bendera Pusaka, Beliau ditangkap dan diasingkan oleh Belanda bersama Wakil Presiden beserta staf kepresidenan lainnya ke Muntok, Bangka Sumatera.
Sekitar pertengahan bulan Juni 1948 Bapak Husein Mutahar menerima berita dari Bapak Soejono , isi pemberitahuan itu yakni adanya surat pribadi Presiden pada dirinya yang pada pokoknya Presiden memerintahkan Bapak Husein Mutahar guna menyerahkan kembali Bendera Pusaka kepada Beliau dengan perantaraan Bapak Soejono yang selanjutnya Bendera Pusaka tersebut dibawa serta diserahkan kepada Presiden ditempat pengasingan (Muntok, Bangka).

Setelah mengetahui hal tersebut, dengan meminjam mesin jahit milik isteri seorang dokter, Bendera Pusaka yang terpisah menjadi dua bagian tersebut disatukan kembali persis pada posisinya semula, akan tetapi sekitar 2 cm dari ujung Bendera ada sedikit kesalahan jahit.

Selanjutnya Bendera tersebut di serahkan kepada Bapak Soejono sesuai dengan isi surat perintah Presiden.

2. Pengibaran Bendera Merah Putih di Gedung Agung Yogyakarta
Menjelang peringatan HUT Kemerdekaan Republik Indonesia ke II (1946-red), Presiden memanggil salah seorang ajudan beliau, yaitu Bapak Mayor Laut (L) Husein Mutahar (yang kelak menyelamatkan Bendera Pusaka-red). Selanjutnya memberikan tugas untuk mempersiapkan dan memimpin upacara peringatan HUT Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1946 di Halaman Istana Presiden Gedung Agung Yogyakarta (pada tahun 1946 Ibukota RI berada di Yogyakarta-red).
Pada saat itu Bapak Husein Mutahar mempunyai pemikiran bahwa untuk menumbuhkan rasa persatuan bangsa maka pengibaran Bendera Pusaka sebaiknya dilakukan oleh para pemuda se-Indonesia. Kemudian beliau menunjuk 5 orang pemuda yang terdiri dari 3 orang putera dan 2 orang puteri perwakilan daerah yang berada di Yogyakarta.
Formasi pengibaran seperti ini dilakukan sampai dengan tahun 1948.
Pada tanggal 6 Juli 1949 Presiden bersama Wakil Presiden tiba kembali di Yogyakarta dari Bangka (tempat pengasingan-red) dengan membawa kembali Bendera Pusaka. Tanggal 27 Desember 1949 dilakukan penandatanganan naskah pengakuan kedaulatan di Negeri Belanda dan mengubah bentuk negara Indonesia menjadi Republik Indonesia Serikat dan menyerahkan kekuasaan di Jakarta. Sedangkan penyerahan kedaulatan dari Republik Indonesia kepada Republik Indonesia Serikat dilakukan di Yogyakarta.
Tanggal 28 Desember 1949 Presiden kembali ke Jakarta guna memangku jabatan sebagai Presiden Republik Indonesia Serikat. Setelah empat tahun ditinggalkan, Jakarta kembali menjadi Ibukota RI dan pada hari itu juga Bendera Pusaka juga dibawa ke Jakarta.
Untuk pertama kali peringatan HUT Proklamasi Kemerdekaan RI tanggal 17 Agustus 1950 diselenggarakan di Istana Merdeka, Jakarta. Bendera Pusaka Merah Putih berkibar dengan megahnya di tiang tujuh belas dan disambut dengan penuh kegembiraan oleh seluruh bangsa Indonesia.
Regu-regu pengibar dari tahun 1950-1966 dibentuk dan diatur oleh Rumah tangga Kepresidenan.

3. Percobaan Pembentukan Pasukan Penggerek Bendera Pusaka Tahun 1967 dan Pasukan Pertama Tahun 1968

Pada tahun 1967 Bapak Husein Mutahar dipanggil oleh Presiden Soeharto untuk menangani lagi masalah Pengibaran Bendera Pusaka. Dengan ide dasar dari pelaksanaan tahun 1946 di Yogyakarta (5 orang-red), kemudian beliau mengembangkan lagi formasi pengibaran menjadi 3 (tiga) kelompok, yaitu : Kelompok 17/Pengiring (Pemandu), Kelompok 8/Pembawa (Inti), Kelompok 45/Pengawal. Ini merupakan simbol yang diambil dari tanggal Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia 17 Agustus 1945
Pada saat itu dengan situasi dan kondisi yang ada, beliau melibatkan putra daerah yang ada di Jakarta dan menjadi anggota Pandu/Pramuka untuk melaksanakan tugas Pengibaran Bendera Pusaka.
Semula rencana beliau untuk kelompok 45 (pengawal) akan terdiri dari para Mahasiswa AKABRI (Generasi Muda ABRI-red) , tetapi pada waktu itu libur perkuliahan dan transfortasi Magelang-Jakarta menjadi kendala, sehingga sulit untuk dilaksanakan.
Usul lain untuk menggunakan pasukan elite ABRI (RPKAD, PGT, MARINIR, BRIMOB) juga tidak mudah. Akhirnya diambil dari Pasukan Pengawal Presiden (PASWALPRES) yang mudah dihubungi dan sekaligus mereka bertugas di Istana Jakarta.
Tahun 1968, petugas Pengibar Bendera Pusaka adalah pemuda utusan propinsi. Tetapi belum seluruh propinsi mengirimkan utusan sehingga harus ditambah oleh ex-anggota pasukan tahun 1967.
Tahun 1969 karena Bendera Pusaka kondisinya terlalu tua sehingga tidak mungkin untuk dikibarkan kembali, maka dibuatlah duplikat. Untuk dikibarkan di tiang 17 Meter Istana Merdeka, telah tersedia Bendera Merah Putih dari bahan Bendera (wool) yang dijahit 3 potong memanjang kain merah dan 3 potong memanjang kain putih kekuning-kuningan.
Bendera Merah Putih duplikat Bendera Pusaka yang akan dibagikan ke daerah idealnya terbuat dari sutra alam dan alat tenun asli Indonesia, yang warna merah dan putihnya langsung ditenun menjadi satu tanpa dihubungkan dengan jahitan dan warna merahnya cat celup asli Indonesia.
Pembuatan Duplikat Bendera Pusaka ini dilaksanakan oleh Balai Penelitian Tekstil Bandung dengan dibantu oleh PT Ratna di Ciawi Bogor. Dalam prakteknya pembuatan duplikat Bendera Pusaka, sukar untuk memenuhi syarat ideal yang ditentukan Bapak Husein Mutahar, karena cat asli Indonesia tidak memiliki warna merah yang standar dan pembuatan dengan alat tenun bukan mesin akan lama.
Tanggal 5 Agustus 1969 di Istana Negara Jakarta berlangsung upacara penyerahan Duplikat Bendera Pusaka Merah Putih dan Reproduksi Naskah Proklamasi oleh Presiden Soeharto kepada Gubernur/Kepala Daerah Tingkat I Seluruh Indonesia. Hal ini dimaksudkan agar pada waktu upacara peringatan HUT Proklamasi Kemerdekaan di masing-masing daerah dapat dikibarkan duplikat Bendera Pusaka dan pembacaan Naskah Proklamasi bersamaan dengan Upacara Peringatan HUT Proklamasi Kemerdekaan yang dilakukan di Istana Merdeka, Jakarta. Selanjutnya kedua benda tersebut juga di bagikan ke Daerah Tingkat II serta perwakilan-perwakilan Republik Indonesia di luar negeri.
Bendera Duplikat mulai dikibarkan menggantikan Bendera Pusaka pada Peringatan HUT Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia 17 Agustus 1969 di Istana Merdeka, sedangkan Bendera Pusaka bertugas mengantar dan menjemput Bendera Duplikat yang dikibarkan/diturunkan. Pada tahun itu juga resmi anggota PASKIBRAKA adalah remaja SMTA se-tanah air yang merupakan utusan dari tiap-tiap propinsi. Setiap propinsi di wakili oleh sepasang remaja.
Pada tahun 1973 Bapak Idik Sulaeman melontarkan suatu nama untuk anggota Pengibar Bendera Pusaka dengan sebutan PASKIBRAKA. PAS akronim dari Pasukan, KIB akronim dari Pengibar, RA berati bendera, KA berati Pusaka. Mulai saat itulah resmi singkatan Pasukan Pengibar Bendera Pusaka adalah PASKIBRAKA sampai saat ini.

Dirangkum dari
Buku Kenangan 25 Tahun PASKIBRAKA
Direktorat Pembinaan Generasi Muda
Ditjen Diklusepora Depdikbud
Tahun 1993

sekian terima kasih

Desember 2016
S S R K J S M
« Mei    
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Top Rated

Arsip